Perjalanan si muka tembok, tak peduli apa kata orang. Baginya apa yang iya lakukan adalah benar. Perjalanan si muka tembok, hidup bahagia tanpa beban, seakan hidupnya bukan tentang mereka, tapi hidup ini tentang dirinya. Perjalanan si muka tembok penuh ilusi namun penuh dengan kejutan. Perjalanan si muka tembok, penuh ledakan ekspresi, penuh kilatan warna. Perjalanan si muka tembok, lebih banyak memalukan meski kadang mengharukan. Perjalanan si muka tembok, selalu mendatangkan tawa, meski mereka tak sadar ia pembawa kebahagiaan. Perjalanan si muka tembok, penuh teka-teki, hal bodoh apa yang akan dia lakukan setelah ini? Perjalanan si muka tembok, penuh olokan, penuh rasa remehan dari banyak orang, namun ia orang hebat. Hebat karena tetap menjadi diri sendiri tanpa takut berhenti bila ia anggap benar. Perjalanan si muka tembok, selalu menarik perhatian meski kadang menimbulkan gejolak kemarahan.
Tak akan ada yang mengira si muka tembok ini, sore ini seorang diri meneteskan air mata. Duduk menyudut di ruang kosong, mengeratkan genggaman tangannya, meletakkannya pada dadanya, merengkuh dan terus merengkuh, seakan amat sakit disekujur tubuhnya. Siapa yang mengira si muka tembok ini menjadi lemah dan rentah. tak ada yang tau, hanya seorang diri menahan perasaan, diabaikan itu menyakitkan, diabaikan itu merengkuh kebahagiaan. Namun dia bukan sedang bersedih, ia sedang marah, ia marah. Dipermainkan di hempaskan ke langit berhiaskan pelangi lalu dihentakkan dengan secepatnya ke bumi tanpa alas rerumputan. Begitu keras hingga tulang belakangnya bertebaran keseluruh sudut ruangan ini. perjalan si muka tembok, unik, tetap tegar di depan banyak orang, tak menangis meski teriris, tak berontak meski terkekang, tak menuduh meski tertuduh. Begitu spesial perjalanan si muka tembok.
“Apa alasanmu mengikatkan rembulan disetiap lekuk tulang belulangku, bila akhirnya kau tarik dengan paksa sampai semuanya pecah berantakkan.”
bermain bersama pikiran-pikiran liar -R-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar